
Dosen pelaksana program pengabdian kepada masyarakat menginisiasi kegiatan diskusi kelembagaan bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), petani, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bagian dari implementasi program bertema “Transformasi Digital melalui Search Engine Optimization (SEO) untuk Branding Kopi Endemik dan Penguatan Kelembagaan Tani Hutan di Desa Tlekung, Kota Batu.” Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Juni 2026 di Cafe Pemain Lama ini menjadi salah satu forum strategis untuk menyatukan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif dalam mengembangkan potensi kopi endemik Desa Tlekung melalui penguatan kelembagaan dan pemanfaatan teknologi digital. Dalam program ini, dosen berperan sebagai penggagas sekaligus pendamping kegiatan, sedangkan mahasiswa berkolaborasi dalam memfasilitasi jalannya diskusi, mendokumentasikan hasil pembahasan, serta memberikan dukungan terhadap implementasi program di lapangan.
Diskusi kelembagaan diselenggarakan sebagai bentuk komitmen perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan pengelolaan sumber daya alam di era digital. Selain menghasilkan rekomendasi program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat komunikasi antara unsur akademisi dan kelembagaan lokal. Penguatan kelembagaan dipandang sebagai fondasi penting dalam mendukung keberhasilan berbagai program pemberdayaan masyarakat, khususnya pada sektor perkebunan kopi yang selama ini menjadi salah satu potensi unggulan Desa Tlekung. Melalui kelembagaan yang kuat, diharapkan pengelolaan sumber daya alam dapat dilakukan secara lebih terarah, transparan, dan berkelanjutan.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dengan dihadiri oleh dosen pelaksana pengabdian, mahasiswa KKN, perwakilan petani, serta elemen LPHD. Suasana diskusi berlangsung secara terbuka dan interaktif sehingga setiap peserta memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, maupun usulan terkait pengembangan program. Dosen memaparkan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam menciptakan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan lokal. Sementara itu, mahasiswa berperan aktif membantu jalannya diskusi dengan mencatat berbagai masukan, memfasilitasi komunikasi antar peserta, serta mendokumentasikan hasil pembahasan sebagai bahan tindak lanjut program pengabdian.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah strategi pengembangan kopi endemik Desa Tlekung agar memiliki daya saing yang lebih tinggi melalui pemanfaatan teknologi digital. Dalam kesempatan tersebut, dosen menjelaskan bahwa transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan media sosial, tetapi juga mencakup optimalisasi informasi melalui Search Engine Optimization (SEO). Dengan penerapan SEO, informasi mengenai kopi endemik, profil petani, kegiatan LPHD, hingga potensi wisata edukasi kopi di Desa Tlekung dapat lebih mudah ditemukan oleh masyarakat, calon wisatawan, pelaku usaha, maupun investor melalui mesin pencari. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan visibilitas kopi lokal sekaligus memperluas peluang pemasaran produk secara berkelanjutan.

Selain membahas strategi digital, diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan tani hutan sebagai penggerak utama pembangunan masyarakat berbasis sumber daya alam. Para peserta berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan organisasi, mulai dari koordinasi antaranggota, penyusunan program kerja, hingga pengembangan kemitraan dengan berbagai pihak. Berbagai masukan yang disampaikan selama diskusi menjadi dasar dalam merumuskan strategi kelembagaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai gotong royong dan kearifan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tlekung.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, petani, dan LPHD dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan wilayah tidak dapat dilakukan secara parsial. Perguruan tinggi hadir tidak hanya sebagai penyedia ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam merancang solusi yang aplikatif. Mahasiswa KKN memperoleh pengalaman langsung mengenai proses pemberdayaan masyarakat dan pentingnya membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di sisi lain, petani dan LPHD mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus berdiskusi mengenai berbagai peluang pengembangan kelembagaan dan pemasaran kopi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Melalui diskusi kelembagaan ini, diharapkan tercipta kesepahaman bersama mengenai arah pengembangan program yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Tlekung. Hasil diskusi akan menjadi dasar pelaksanaan berbagai kegiatan lanjutan, termasuk pendampingan branding kopi endemik, penguatan kapasitas kelembagaan tani hutan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan promosi produk lokal. Dengan sinergi yang terus dibangun antara dosen, mahasiswa KKN, petani, dan LPHD, program pengabdian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat kelembagaan lokal, serta memperkenalkan kopi endemik Desa Tlekung sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi dan identitas daerah yang kuat.