KOTA BATU — Upaya peningkatan kualitas pascapanen Kopi Srandil di wilayah Tlekung, Kota Batu, terus menunjukkan progres positif. Proyek pembangunan solar dome (kubah surya) pengering kopi yang diinisiasi oleh dosen Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini tengah memasuki tahap pengerjaan interior, yakni pembuatan rak pengering.

Proyek inovasi teknologi pascapanen ini digarap melalui kolaborasi aktif. Tim dosen UMM tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu secara langsung oleh para petani kopi setempat. Keterlibatan petani memastikan bahwa desain dan konstruksi fasilitas ini benar-benar aplikatif dan sesuai dengan kondisi nyata penanganan pascapanen di lapangan.

Fokus pengerjaan saat ini tertuju pada perakitan rak pengering kopi yang telah dimulai sejak 20 September 2026. Proses perakitan ini dikebut dengan target penyelesaian yang sangat efektif. Dalam kurun waktu tiga hari sejak pengerjaan awal, seluruh unit rak ditargetkan sudah rampung dan akan langsung dipasang di dalam bangunan solar dome.

Secara spesifikasi teknis, rak pengering didesain untuk mengoptimalkan ruang dan distribusi panas di dalam kubah surya. Rak tersebut dibuat model dua susun dengan dimensi luasan masing-masing tingkat mencapai 150 cm x 90 cm.

Dengan ukuran tersebut, setiap susun rak dirancang mampu menampung beban pengeringan biji kopi basah sebanyak kurang lebih 30 kilogram. Artinya, dalam satu unit rak dua susun, petani dapat menjemur sekitar 60 kilogram kopi basah sekaligus secara vertikal.

Penggunaan sistem rak bersusun di dalam solar dome ini diharapkan dapat mengefisienkan lahan penjemuran sekaligus menjaga biji Kopi Srandil dari kontaminasi cuaca luar dan hama. Dengan suhu yang lebih stabil dan sirkulasi udara yang tertata di antar susunan rak, proses pengeringan biji kopi diproyeksikan akan lebih cepat dengan profil kadar air yang merata, sehingga mutu Kopi Srandil khas Tlekung dapat terus meningkat.