Pelatihan stek dan grafting menjadi upaya meningkatkan keterampilan kelompok tani hutan dalam memperbanyak bibit kopi yang unggul guna mendukung produktivitas dan ketersediaan bibit kopi unggul.

Mahasiswa bersama dosen menggelar pelatihan teknik stek dan grafting kopi bagi anggota Kelompok Tani Hutan di Kawasan Hutan Lindung Desa Tlekung, Kota Batu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berbagi pengetahuan mengenai teknik perbanyakan vegetatif yang dapat menghasilkan bibit kopi unggul sekaligus mendukung pengembangan budidaya kopi endemik di tingkat petani.

Pengambilan entres atau tunas diambil di lahan milik salah satu  anggota LPHD Sumber Makmur Sembada, daun pada entres dipotong dan hanya disisakan sebagian kecil. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi penguapan (transpirasi) sehingga cadangan air di dalam entres tetap terjaga selama proses penyambungan. Media tanam yang digunakan adalah tanah yang kaya akan bahan organik dan kompos, dengan perbandingan 1:1.

Pelatihan Teknik Grafting

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai karakteristik entres atau tunas yang baik. “Pada teknik grafting, entres yang digunakan sebaiknya berasal dari pucuk tanaman induk yang sehat. Pilih tunas yang masih muda, tetapi tidak terlalu lunak, bebas hama dan penyakit, serta berasal dari pohon induk yang produktif agar hasil sambungan dapat tumbuh dengan baik,” ujar Anwar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

“Entres sebaiknya diambil dari tunas yang tumbuh tegak, bukan dari cabang samping. Hal ini karena cabang samping cenderung mempertahankan sifat pertumbuhannya yang menyebar ke samping, sehingga kurang ideal jika digunakan sebagai bahan sambung untuk menghasilkan tanaman baru yang tumbuh tegak. Panjang entres yang digunakan umumnya berkisar 5–10 sentimeter, dengan 2–3 ruas atau mata tunas yang sehat agar peluang keberhasilan lebih tinggi,” jelas Ramli, dosen Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang.

Setelah menyambungkan batang bawah dan entres, bagian sambungan ditutup menggunakan plastik bening untuk menciptakan kondisi yang lembab di sekitar tanaman.

“Plastik ini berfungsi menjaga kelembapan di sekitar stek. Selama akar belum terbentuk, tanaman belum mampu menyerap air secara optimal. Karena itu, kondisi yang lembab sangat penting agar entres tidak cepat layu,” tambah Ramli.

Pelatihan Teknik Stek

Kelanjutan dari teknik grafting, yaitu teknik stek. Pada praktik ini, bahan utama yang digunakan dalam teknik ini adalah Zat Pengatur Tumbuh yaitu Auksin.

“Auksin merupakan hormon tumbuhan yang berperan dalam merangsang pertumbuhan akar. Dengan pemberian auksin, peluang stek untuk membentuk akar menjadi lebih tinggi sehingga bibit memiliki kesempatan tumbuh yang lebih baik,” jelas Ilmam, dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang. .

Proses diawali dengan menyiapkan entres yang berasal dari tanaman induk yang sehat dan produktif. Entres dipotong sepanjang 10–15 cm dengan menyisakan 2–3 ruas, kemudian daun dipangkas hingga tersisa sekitar sepertiga bagian.

Selanjutnya, menyiapkan larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) jenis auksin. Larutan ZPT disiapkan sesuai dosis yang dianjurkan pada produk. Pangkal entres kemudian direndam selama sekitar 5–10 menit, sebelum ditanam pada media tanam yang telah disiapkan.

Setelah proses perendaman selesai, pangkal entres ditanam pada media tanam yang telah disiapkan. Posisi entres tetap tegak dan entres ditutup menggunakan plastik bening untuk menciptakan kondisi yang lembab di sekitar tanaman.

Selama masa penyimpanan, hasil grafting dan stek diletakkan di tempat yang teduh dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Bibit disiram secukupnya untuk menjaga kelembaban media tanam tanpa menyebabkan genangan air. Pada teknik grafting, plastik pengikat tetap dipertahankan hingga sambungan antara batang bawah dan entres benar-benar menyatu. Pada teknik stek, plastik penutup tetap dipasang untuk menjaga kelembapan di sekitar entres sehingga mengurangi penguapan air selama proses pembentukan akar.

“Keberhasilan grafting ditandai dengan entres yang tetap segar dan mulai mengeluarkan tunas baru, sedangkan pada stek ditandai dengan munculnya akar dan tunas baru,” jelas Ramli.